Takdir kita lahir, dimana kita disebut Manusia Milenial adalah anugerah, umur yang muda, produktif, inovatif, kreatif dengan semangat yang menggelora, sangat cukup jika untuk menguncang dunia, begitulah wasiat para pendiri bangsa indonesia, di era yg sering kita sebut Demokrasi, sebagai titik balik sejarah mengobarkan semangat dengan api perjuangan Bung Karno yang sudah terpatri dalam benak setiap individu pemuda pemudi Jawa Timur, itulah kenapa "Milenial Soekarnois" ini bergelombang dengan masa yang progresif, idealis dan berkomitmen serta berfikir keras untuk kemajuan bangsa, sebagai anak Ideologis Soekarno, sudah barang tentu kita akan berada di garis terdepan dalam merawat kebhinekaan, menolak segala bentuk diskriminatif, Sara, dan perpecahan, agar bangsa ini tetap utuh dengan kekayaan budaya dan kerukunan.
diskusi diskusi kecil dengan gagasan gagasan besar merupakan mimpi Milenial Soekarnois dan menjadi azimat untuk kita perjuangkan, seperti halnya konsepsi Trisakti Bungkarno, berdaulat di bidang politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan, dimana yang sekarang berkebetulan tahun euforia kancah politik Indonesia, pemuda atau Milenial Soekarnois jangan sampai menutup mata, atau acuh dalam kedaulatan politik, seperti keyakinan kita bahwa Demokrasi harus 100% mendapatkan keadilannya, tanpa di nodai, tanpa di manipulasi, mencari figur pemimpin kedepan ini memang tidak gampang, figur gubernur, walikota, bupati, tidak ada yang bisa menjamin sekualitas dengan sosok yang di butuhkan rakyat, pemimpin dgn kriteria ideal sesuai tuntutan zaman memang sulit di realisasikan, sedangkan Jawa Timur di era kedepan membutuhkan pemimpin yg kepribadiannya merupakan rakitan antara kualitas mental pendeta ratu (mangacu dgn tradisi) dengan managerial modern, figur sentral yg sudah melewati masa transedental dari keserakahan duniawi, untuk menuju Jawatimur "toto tentrem karto raharjo" pemimpin yang mempunyai kecenderungan lebih sebagai negarawan, pola kepimpinannya menghafirkan sejuk, damai, memberi dorongan kepada rakyat, agar masyarakat tidak compang camping, tidak sekuler, ini bukan keinginan yang muluk, ini wajar, kita boleh bermimpi setinggi langit Jawa Timur menjadi Profinsi sebagai pelopor perdamaian, kemanusiaan dgn nilai demokrasi yang berdimensi keadilan sosial, kendati sekarang sudah muncul berbagi wajah yang ingin mengabdikan diri untuk Jawatimur, kita tunggu saja visi yang berbalut misi mereka mampu menjawab Jawa Timur tata temtrem karta raharja.
-Hans Wijaya-